Title: Habibie & Ainun
Distribution: MD Pictures
Release: 2012-Dec-20
Duration: 118 minute
Country: Indonesia
Main Cast
Sinopsis
Ini partama kalinya aku merecap film, jadi mohon maklum jika ada beberapa kesalahan dan gambarnya pun agak-agak?
Film Habibie dan Ainun diangkat dari kisah nyata mantan presiden kita Bapak B.J. Habibie dan Almarhumah Ibu Ainun. Kisah ini diperankan oleh Reza Rahardian dan Citra Bunga Lestari.
Film ini diawali dengan adegan disebuah SMA, Habibie diseret oleh gurunya untuk menunjukan orang yang jenius, sama seperti dirinya.
- Guru : "Kenapa langit warnanya biru?"
- Ainun : "Cahaya itu gelombang, merah, kuning, orange itu gelombang panjang, biru itu gelombang pendek. Sedangkan atmosfer itu satu frekuensi dengan gelombang pendek, terutama warna biru. Jadi atmosfer menahan dan menghamburkan warna biru itu dilangit."
Gurunya memuji mereka berdua sebagai pasangan yang serasi, karena mereka mampu meberikan jawaban dengan tepat benar.
Habibie menuntut ilmu di German. Ia dipuji oleh dosennya karena ke jeniusannya. Habibie diminta mempresentasikan tentang pesawat terbang, dan Ia melakukannya dengan sangat baik. Para profesor yang melihat dibuatnya kagum. Tiba-tiba ditengah presentasinya Ia terkapar tak berdaya. Saat itulah Ia bertekat untuk mengabdi di Ibu Pertiwi.
Saat berada di Indonesia, Habibie disuruh ibunya membesuk keluarga Besari, yang anaknya perempuannya satu SMA dengan Habibie, Ainun. Saat diperjalanan Ia mengenang saat menjuluki Ainun seperti gula jawa.Ia terkekeh sendiri karena kelakuannya. Saat masuk kerumah Ainun, Ia terkesima pada kecantikan Ainun. Ia berkata gula jawa telah berubah menjadi gula pasir. Mereka tertawa bahagia. Ainun merupakan calon dokter. Saat akan pulang Habibie malu-malu ingin mengajak Ainun jalan-jalan. Sesampainya dirumah teman-teman Habibie memperingati Habibie, bahwa Ainun banyak yang menyukai, dari mulai pejabat, tentara, dan jaksa, yang merupakan orang-orang hebat. Namun Habibie tak gentar sama sekali.
Pertemuan pertamanya dengan Habibie, sejak Habibie pulang dari Jerman, membuat Ainun terkesan. Ia menulis surat kepada sahabatnya mengenai pertemuannya dengan Habibie. Keesokan harinya pria-pria yang menyukai Ainun berkumpul dirumah Ainun untuk bersilaturrahmi atau lebih tepatnya buat pdkt sama Ainun. Eh, udah sekian lama mereka berbasa-basi dengan Ayah Aniun, Ainun malah disuruh pergi oleh Ayahnya dengan Habibie yang baru datang.
Mereka berjalan-jalan sambil berbincang-bincang tentang saat mereka masih SMA. Habibie mulai padkt nih sama Ainun, dia tanya-tanya tentang beberapa laki-laki yang berada dirumahnya tadi, apakah ada yang khusus dihati Ainun, Ainun jawabnya nggak. Habibie-nya malah slting dibuatya(hihihi). Lalu, mereka pergi menari, entah dimana itu tempatnya ya? Mereka berdansa dengan mesra. Disana mereka bertemu dengan sahabat Ainun, Anis. Mereka banyak ngobrol. Mereka pulang menggunakan becak. Di perjalanan, Ainun bertanya "Selesai sekolah di Jerman, apakah Habibie akan pulang?" Habibie berkata,tentu Ia harus pulang, karena impiannya untuk membangun Indonesia. Dia teringat tentang janjinya saat Ia koleps di Jerman dahulu. Saat Ia hampir mati, Ia bersumpah terlentang dan jatuh dipangkuan Ibu Pertiwi.
Di dalam becak, Habibie mengukapkan kesungguhannya dengan melamar Ainun. Habibie mengajak Ainun pergi ke Jerman bersamanya, serta menikah dengannya. Ainun hanya tersenyum, lalu mereka berpegangan tangan. Saat mereka semakin dekat, dekat, eh mereka dikagetkan sama Si tukang becak yang bekata bahwa mereka sudah sampai.
Tibalah hari pernikahan mereka, orang-orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Lalu munculah pasangan pengantin yang dinanti.Mereka tidak henti-hentinya tersenyum.
Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman. Mereka hidup dengan sederhana. Sekarang ini Ainun sedang mengandung anak pertama mereka. Ainun memang seorang istri yang hebat, Ia bersedia hidup hemat dan sederhana bersama suaminya, meskipun begitu mereka hidup bahagia serta harmonis. Habibie adalah seorang karyawan biasa disebuah perusahaan pembuatan kereta api.
Ainun mulai merindukan negara asalnya Ia membolak-balik foto pernikahannya. Sementara itu Habibie menyusuri jalan sambil menggigil kedinginan menuju rumahnya yang lumayan jauh. Ia lebih memilih berjalan kaki dibandingan naik kendaraan umum karena mengemat biaya. Ditengah salju yang turun Ia menahan dingin, serta sakit di kakinya karena sepatunya yang bolong. Di rumah Ainun menyiapkan makan malam untuk suaminya yang tak kunjung tiba. Saat suaminya datang, kekhawatiran terliha di wajah Ainun, yang melihat suaminya kesakitan. Dengan telaten Ia merawat luka suaminya(so sweet^^). Akhirnya tangis Ainun pun pecah, Ia mengungkapkan bahwa Ia ingin pulang, Ia sudah menghitung tabungannya dan Ia berjanji akan kembali saat Ia sudah memilki uang kembali. Namun Habibie menguatkan hati Ainun, bahwa mereka hidup di terowongan panjang yang gelap, dan tidak tahu akan mengarah kemana, tapi setiap terowongan pasti memiliki ujung, ada cahaya. Habibie berjanji akan membawanya ke cahaya itu.
Kesuksesan mulai diraih habibie, proyeknya berhasil. Kehidupan Habibie dan Ainun mulai mapan, kebahagiaan mereka bertambah dengan anak mereka yang mulai besar. Habibie membuat proposal tentang pembuatan pesawat terbang, Ia mengirimkannya ke pemerintah Indonesia, sebagai perwujudan sumpahnya dan janjinya kepada Ainun. Namun proposalnya ditolak karena Industri pesawat di Indonesia yang masih belum siap. Kekecewaan terpancar jelas diwajah Habibie, namun seketika sirna, saat istrinya mengatakan bahwa Ia hamil lagi(benar-benar keluarga idaman).
Saat keadaan mulai membaik, Ainun tertampar keras oleh vonis dokter yang menyatakan bahwa Ia terkena kanker ovarium dan harus segera di operasi. Untunglah opersinya berhasil. Setelah sembuh Ainun memtuskan utuk kembali bekerja sebagai dokter, sebab anaknya sudah besar, dan bisa diasuh oleh pengasuh.
Habibie mendapat undangan dari wakil Indonesia. Ia ditegur keras karena sibuk mengembangkan industri negara lain, dan mengabaikan negaranya sendiri. Namun Rudi membantah, Ia sudah pernah mengirimkan proposalnya ke pemerintah Indonesia, namun tidak ada tanggapan. Perwakilan tersebut membawa angin segar terhadap Habibie, bahwa di Indonesia dibawah ke pemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia sedang giat membangun. Mereka akan mendukung Habibie dengan idenya yang dulu, tentu saja Habibie tidak menolak permintaan tersebut. Ia sungguh senanng karena bisa mengabdi di negara kelahirannya.
Habibie mendiskusikan rencananya kepada Ainun, Ia harus meninggalkan Ainun untuk beberapa waktu. Bukannya menolak, Ainun malah mendukung rencana suaminya tersebut. Mereka tersenyum bahagia, karena ini saatnya mereka mewujudkan impian mereka.
Habibie, mulai mempresentasikan pesawat yang akan Indonesia buat dengat tangan anak bangsa mereka sendiri. Rencana Habibie tidak semulus kelihatannya, ada beberapa pihak yang ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Ainun menghubungi Habibie, dan mengabarkan anak mereka yang masuk RS, karena terkena alergi. Ainun merasa gagal menjadi seorang Ibu, Ia merupakan seorang dokter anak, yang tiap hari mengobati anak-anak, namun anaknya sendiri tidak terurus. Habibie minta maaf karena tidak bisa berada disamping mereka. Ainun memutuskan untuk sesecepatnya ke Indonesia bersama anak-anak.
Sementara Ainun, sedang sibuk merawat pasiennya. Ia dan juga anak-anaknya mendengar keberhasilan sang kepala keluarga. Mereka tersenyum bangga.
Ainun telah sampai di Indonesia. Ia, Habibie dan Ibunya makan malam bersama. Ibu menasehati Habibie dan Ainun, jika ada seorang pengusaha yang mendekati mereka demi kepentingan bisnis, mereka harus berhati-hati. Habibie menanggapi perkataan Ibunya dengan enteng, Ia berkata, "Ia menjadi menteri bukan demi Uang". Sementara Ainun mengiyakan perkataan Ibu mertannya tersebut. Benar saja perkataan Ibunya, Habibie didekati oleh P.Sumohadi, yang dulu sempat menginginkan rancangan pesawat yang dibuat Habibie. Ainun mencium gelagat aneh dari orang tersebut, namun Habibie bilang bahwa P.Suteja itu orang yang baik dan ramah. P.Sumohadi mulai mendekatkan dirinya dengan Habibie agar Ia memengkan tender. Hubungan P.Sumohadi dan Habibie mulai dekat, saat itulah P.Sumohadi mulai menampakan jati dirinya, Ia mulai memberi jam tangan mahal, dan tidak mempan. Saat Ia memberi sogokan uang, tidak digubris sama sekali oleh Habibie. Pucaknya P.Sumohadi mengirim wanita, dan itu malah membuat Habibie marah besar, hingga bermusuhan den P.Sumohadi.
Permusuhannya denga P. Sumohadi membuat peluncuran pesawat N250, terancam tidak dihadiri oleh Presiden Soeharto. Ia sangat gugup menghadapi detik-detik peluncuran pesawat pertama buatan Indonesia, tidur pun Ia tidak nyenyak. Bahkan Ainun menegurnya berkali-kali agar cepat tidur, Ainun memberi dukungan kepada suaminya, bahwa besok semuanya akan berjalan lancar. Terbayar sudah kerja keras Habibie dan anak bangsa Indonesia dengan keberhasilan peluncuran pesawat N250, bahkan acara tersebut dihadiri oleh Presiden Soeharto dan wakilnya P.Sutrisno.
Disela kesibuknnya Habibie merayakan ulang tahun istrinya, meskipun dengan sederhana.
Karena suaminya jatuh sakit, Ainun ingin suaminya pensiun menjadi menteri dan mengajaknya berlibur. Namun sayang rencana mereka yang sudah matang, harus menjadi angan-angan karena wakil presiden yang menjabat mengundurkan diri dari jabatannya dan Habibie ditunjuk untuk menggantikannya, Ia tak kuasa menolak, karena Indonesia dalam keadaan kacau. Ia pun melaksanakan sumpah jabatan, dan resmi menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Keadaan Indonesia semakin kacau balau, dan Presiden Soeharto diminta mundur dari jabitannya. Jadilah Habibie menjadi Presiden RI.Pada masa pemerintahan Habibie, rakyat Indonesia mulai bebas beraspirasi. Namun tanpa diduga, ada pemberiaan yang muncul di media tentang P.Sumohadi yang menjelek-jelekan pemerintahan B.J. Habibie.
Sejak munculnya pemberitaan tersebut, mulai muncul isu-isu yang mencemarkan Presiden B.J. Habibie. Demo dimana-mana, aksi masa mulai tidak terkendali. Masa menginginkan Presiden turun dari jabatannya. Ainun yang dalam keadaan sakit, tidak ingin membritahukan kondisinya, karena takut menambah beban pikiran suaminya. Keadaan negara yang dipimpinnya membuatnya Habibie semakin gila kerja, untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin kompleks. Bahkan Ia harus mengabaikan perhatian istrinya, hal itu membuat Ainun urung memberitahukan mengenai kondisinya. Habibie memutuskan untuk tidak lagi mencalonkan dirinya sebagai presiden.
Habibie manangis meratapi impiannya yang kandas, impian tersebut bahkan membuatnya kehilangan banyak waktunya untuk istri dan anakanya.
Setelah Habibie mundur menjadi presiden, Ia memilih menghabiskan waktunya bersama keluarga dengan berlibur ke Jerman. Disana Ia mendapatkan kembali kebahagian dan ketenangan bersama istrinya.
Akhrinya Habibie mengetahui penyakit yang diderita istrinya, kanker ovarium stadium 3, saat mereka bersama-sama Check Up ke dokter. Habibie langsung memboyong keluarganya menuju Munchen, untuk mendapatkan pengobatan terbaik bagi istrinya.
Selama dirumah sakit, Habibie dengan setia menemani istrinya dan merawatnya dengan telaten. Ainun menjalani operasi berkali-kali. Habibie kasihan melihat istrinya yang harus berkali-kali menjalankan operasi, sehingga Ia memutuskan untuk tidak lagi megoperasi istrinya, meskipun itu pahit untuknya. Akhirnya Ibu Ainun pun meninggal dunia.
~ END ~
Habibie menuntut ilmu di German. Ia dipuji oleh dosennya karena ke jeniusannya. Habibie diminta mempresentasikan tentang pesawat terbang, dan Ia melakukannya dengan sangat baik. Para profesor yang melihat dibuatnya kagum. Tiba-tiba ditengah presentasinya Ia terkapar tak berdaya. Saat itulah Ia bertekat untuk mengabdi di Ibu Pertiwi.
Saat berada di Indonesia, Habibie disuruh ibunya membesuk keluarga Besari, yang anaknya perempuannya satu SMA dengan Habibie, Ainun. Saat diperjalanan Ia mengenang saat menjuluki Ainun seperti gula jawa.Ia terkekeh sendiri karena kelakuannya. Saat masuk kerumah Ainun, Ia terkesima pada kecantikan Ainun. Ia berkata gula jawa telah berubah menjadi gula pasir. Mereka tertawa bahagia. Ainun merupakan calon dokter. Saat akan pulang Habibie malu-malu ingin mengajak Ainun jalan-jalan. Sesampainya dirumah teman-teman Habibie memperingati Habibie, bahwa Ainun banyak yang menyukai, dari mulai pejabat, tentara, dan jaksa, yang merupakan orang-orang hebat. Namun Habibie tak gentar sama sekali.
Pertemuan pertamanya dengan Habibie, sejak Habibie pulang dari Jerman, membuat Ainun terkesan. Ia menulis surat kepada sahabatnya mengenai pertemuannya dengan Habibie. Keesokan harinya pria-pria yang menyukai Ainun berkumpul dirumah Ainun untuk bersilaturrahmi atau lebih tepatnya buat pdkt sama Ainun. Eh, udah sekian lama mereka berbasa-basi dengan Ayah Aniun, Ainun malah disuruh pergi oleh Ayahnya dengan Habibie yang baru datang.
Mereka berjalan-jalan sambil berbincang-bincang tentang saat mereka masih SMA. Habibie mulai padkt nih sama Ainun, dia tanya-tanya tentang beberapa laki-laki yang berada dirumahnya tadi, apakah ada yang khusus dihati Ainun, Ainun jawabnya nggak. Habibie-nya malah slting dibuatya(hihihi). Lalu, mereka pergi menari, entah dimana itu tempatnya ya? Mereka berdansa dengan mesra. Disana mereka bertemu dengan sahabat Ainun, Anis. Mereka banyak ngobrol. Mereka pulang menggunakan becak. Di perjalanan, Ainun bertanya "Selesai sekolah di Jerman, apakah Habibie akan pulang?" Habibie berkata,tentu Ia harus pulang, karena impiannya untuk membangun Indonesia. Dia teringat tentang janjinya saat Ia koleps di Jerman dahulu. Saat Ia hampir mati, Ia bersumpah terlentang dan jatuh dipangkuan Ibu Pertiwi.
Di dalam becak, Habibie mengukapkan kesungguhannya dengan melamar Ainun. Habibie mengajak Ainun pergi ke Jerman bersamanya, serta menikah dengannya. Ainun hanya tersenyum, lalu mereka berpegangan tangan. Saat mereka semakin dekat, dekat, eh mereka dikagetkan sama Si tukang becak yang bekata bahwa mereka sudah sampai.
Tibalah hari pernikahan mereka, orang-orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Lalu munculah pasangan pengantin yang dinanti.Mereka tidak henti-hentinya tersenyum.
Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman. Mereka hidup dengan sederhana. Sekarang ini Ainun sedang mengandung anak pertama mereka. Ainun memang seorang istri yang hebat, Ia bersedia hidup hemat dan sederhana bersama suaminya, meskipun begitu mereka hidup bahagia serta harmonis. Habibie adalah seorang karyawan biasa disebuah perusahaan pembuatan kereta api.
Ainun mulai merindukan negara asalnya Ia membolak-balik foto pernikahannya. Sementara itu Habibie menyusuri jalan sambil menggigil kedinginan menuju rumahnya yang lumayan jauh. Ia lebih memilih berjalan kaki dibandingan naik kendaraan umum karena mengemat biaya. Ditengah salju yang turun Ia menahan dingin, serta sakit di kakinya karena sepatunya yang bolong. Di rumah Ainun menyiapkan makan malam untuk suaminya yang tak kunjung tiba. Saat suaminya datang, kekhawatiran terliha di wajah Ainun, yang melihat suaminya kesakitan. Dengan telaten Ia merawat luka suaminya(so sweet^^). Akhirnya tangis Ainun pun pecah, Ia mengungkapkan bahwa Ia ingin pulang, Ia sudah menghitung tabungannya dan Ia berjanji akan kembali saat Ia sudah memilki uang kembali. Namun Habibie menguatkan hati Ainun, bahwa mereka hidup di terowongan panjang yang gelap, dan tidak tahu akan mengarah kemana, tapi setiap terowongan pasti memiliki ujung, ada cahaya. Habibie berjanji akan membawanya ke cahaya itu.
Kesuksesan mulai diraih habibie, proyeknya berhasil. Kehidupan Habibie dan Ainun mulai mapan, kebahagiaan mereka bertambah dengan anak mereka yang mulai besar. Habibie membuat proposal tentang pembuatan pesawat terbang, Ia mengirimkannya ke pemerintah Indonesia, sebagai perwujudan sumpahnya dan janjinya kepada Ainun. Namun proposalnya ditolak karena Industri pesawat di Indonesia yang masih belum siap. Kekecewaan terpancar jelas diwajah Habibie, namun seketika sirna, saat istrinya mengatakan bahwa Ia hamil lagi(benar-benar keluarga idaman).
Saat keadaan mulai membaik, Ainun tertampar keras oleh vonis dokter yang menyatakan bahwa Ia terkena kanker ovarium dan harus segera di operasi. Untunglah opersinya berhasil. Setelah sembuh Ainun memtuskan utuk kembali bekerja sebagai dokter, sebab anaknya sudah besar, dan bisa diasuh oleh pengasuh.
Habibie mendapat undangan dari wakil Indonesia. Ia ditegur keras karena sibuk mengembangkan industri negara lain, dan mengabaikan negaranya sendiri. Namun Rudi membantah, Ia sudah pernah mengirimkan proposalnya ke pemerintah Indonesia, namun tidak ada tanggapan. Perwakilan tersebut membawa angin segar terhadap Habibie, bahwa di Indonesia dibawah ke pemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia sedang giat membangun. Mereka akan mendukung Habibie dengan idenya yang dulu, tentu saja Habibie tidak menolak permintaan tersebut. Ia sungguh senanng karena bisa mengabdi di negara kelahirannya.
Habibie mendiskusikan rencananya kepada Ainun, Ia harus meninggalkan Ainun untuk beberapa waktu. Bukannya menolak, Ainun malah mendukung rencana suaminya tersebut. Mereka tersenyum bahagia, karena ini saatnya mereka mewujudkan impian mereka.
Habibie, mulai mempresentasikan pesawat yang akan Indonesia buat dengat tangan anak bangsa mereka sendiri. Rencana Habibie tidak semulus kelihatannya, ada beberapa pihak yang ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Ainun menghubungi Habibie, dan mengabarkan anak mereka yang masuk RS, karena terkena alergi. Ainun merasa gagal menjadi seorang Ibu, Ia merupakan seorang dokter anak, yang tiap hari mengobati anak-anak, namun anaknya sendiri tidak terurus. Habibie minta maaf karena tidak bisa berada disamping mereka. Ainun memutuskan untuk sesecepatnya ke Indonesia bersama anak-anak.
Sementara Ainun, sedang sibuk merawat pasiennya. Ia dan juga anak-anaknya mendengar keberhasilan sang kepala keluarga. Mereka tersenyum bangga.
Ainun telah sampai di Indonesia. Ia, Habibie dan Ibunya makan malam bersama. Ibu menasehati Habibie dan Ainun, jika ada seorang pengusaha yang mendekati mereka demi kepentingan bisnis, mereka harus berhati-hati. Habibie menanggapi perkataan Ibunya dengan enteng, Ia berkata, "Ia menjadi menteri bukan demi Uang". Sementara Ainun mengiyakan perkataan Ibu mertannya tersebut. Benar saja perkataan Ibunya, Habibie didekati oleh P.Sumohadi, yang dulu sempat menginginkan rancangan pesawat yang dibuat Habibie. Ainun mencium gelagat aneh dari orang tersebut, namun Habibie bilang bahwa P.Suteja itu orang yang baik dan ramah. P.Sumohadi mulai mendekatkan dirinya dengan Habibie agar Ia memengkan tender. Hubungan P.Sumohadi dan Habibie mulai dekat, saat itulah P.Sumohadi mulai menampakan jati dirinya, Ia mulai memberi jam tangan mahal, dan tidak mempan. Saat Ia memberi sogokan uang, tidak digubris sama sekali oleh Habibie. Pucaknya P.Sumohadi mengirim wanita, dan itu malah membuat Habibie marah besar, hingga bermusuhan den P.Sumohadi.
Permusuhannya denga P. Sumohadi membuat peluncuran pesawat N250, terancam tidak dihadiri oleh Presiden Soeharto. Ia sangat gugup menghadapi detik-detik peluncuran pesawat pertama buatan Indonesia, tidur pun Ia tidak nyenyak. Bahkan Ainun menegurnya berkali-kali agar cepat tidur, Ainun memberi dukungan kepada suaminya, bahwa besok semuanya akan berjalan lancar. Terbayar sudah kerja keras Habibie dan anak bangsa Indonesia dengan keberhasilan peluncuran pesawat N250, bahkan acara tersebut dihadiri oleh Presiden Soeharto dan wakilnya P.Sutrisno.
Disela kesibuknnya Habibie merayakan ulang tahun istrinya, meskipun dengan sederhana.
Karena suaminya jatuh sakit, Ainun ingin suaminya pensiun menjadi menteri dan mengajaknya berlibur. Namun sayang rencana mereka yang sudah matang, harus menjadi angan-angan karena wakil presiden yang menjabat mengundurkan diri dari jabatannya dan Habibie ditunjuk untuk menggantikannya, Ia tak kuasa menolak, karena Indonesia dalam keadaan kacau. Ia pun melaksanakan sumpah jabatan, dan resmi menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Habibie manangis meratapi impiannya yang kandas, impian tersebut bahkan membuatnya kehilangan banyak waktunya untuk istri dan anakanya.
Setelah Habibie mundur menjadi presiden, Ia memilih menghabiskan waktunya bersama keluarga dengan berlibur ke Jerman. Disana Ia mendapatkan kembali kebahagian dan ketenangan bersama istrinya.
Akhrinya Habibie mengetahui penyakit yang diderita istrinya, kanker ovarium stadium 3, saat mereka bersama-sama Check Up ke dokter. Habibie langsung memboyong keluarganya menuju Munchen, untuk mendapatkan pengobatan terbaik bagi istrinya.
Selama dirumah sakit, Habibie dengan setia menemani istrinya dan merawatnya dengan telaten. Ainun menjalani operasi berkali-kali. Habibie kasihan melihat istrinya yang harus berkali-kali menjalankan operasi, sehingga Ia memutuskan untuk tidak lagi megoperasi istrinya, meskipun itu pahit untuknya. Akhirnya Ibu Ainun pun meninggal dunia.
~ END ~



























Posting Komentar